Klakustik, Yogyakarta, dan Makanan

20 August 2007 5:34 AM Diposting oleh Farah
Saya lagi keranjingan lagunya Kla Project, gara-garanya mama saya beberapa hari lalu pulang dengan membawa oleh-oleh berupa CD (Compact Disc bukan CelDam) Klakustik, buat yang gak tau, Klakustik itu kumpulan lagu-lagunya Kla, pas mereka lagi konser ke beberapa tempat, nah hasil konsernya itu direkam, jadinya kayak album the best gitu deh. Sekarang kebiasaan saya bertambah, biasanya saya hanya mendengar kumpulan lagu-lagu jebot dari winamp, sekarang koleksi lagu saya bertambah satu, yaa.. album Klakustik itu.
Cuma satu yang saya sesalkan, di album itu ga ada lagu Yogyakarta, padahal saya ngefans sekali sama lagu satu itu. Lagu yang benar-benar menggambarkan suasana kota Yogya dulu (ga tau kalo sekarang).
Speaking of Yogya, beberapa waktu lalu saya dan keluarga (ayah, mama, adik) sempet gitu rekreasi ke Yogya, dan you know what? Ternyata Yogya tidak lagi seramah dulu. Yang ada di pikiran saya waktu itu tentang Yogya adalah kota yang mahal, jahat, dan kotor (maap banget buat orang Yogya..tapi itulah yang saya rasakan..).
Kenapa mahal dan jahat? Karena waktu itu susah sekali mencari makanan yang harganya benar-benar sesuai, kebanyakan penjual menaikkan harga makanan secara gila-gilaan.
Adalah suatu hal yang lucu tapi miris. Ketika saya membeli sate ayam, di gerobak satenya tertulis SATE AYAM Rp.5000,- tapi apa yang terjadi, ketika saya bertanya “Pak pinten satene? (terjemahan: Pak, berapa (harga) satenya?”) dan pak penjual sate bilang “sepuluh ewu Dhik (sepuluh ribu Dik).” What the hell?! Akhirnya dengan gondok (sebel-red) saya mengatakan tidak jadi membeli satenya. Di sinilah keanehan terjadi, mendadak orang itu mencegah saya pergi dan berkata “Pun, Pitung ewu mawon (Sudah tujuh ribu saja)”, namun saya tetap tidak bergeming (kan udah kadung sebel) dan melanjutkan perjalanan, tapi penjual sate itu tetap keukeuh, sampai akhirnya dari kejauhan saya mendengar penjual sate itu berteriak “Nggih pun, gangsal, gangsal ewu pun! (ya sudah, lima ribu sudah!)”, sementara saya sudah terlanjur pesen gudheg komplit seharga lima ribu di warung lesehan yang penjualnya mbah-mbah.
Moral of this story is: seperti yang pernah dikatakan ayah saya, kalo kita di Yogya dan mau membeli makanan, belilah di warung atau lesehan dimana penjualnya ibu-ibu setengah baya atau mbah-mbah, why? Karena mereka JUJUR, tambahan lagi biasanya kalo penjualnya kayak gitu, masakannya enak-enak dan murah.

0 Response to "Klakustik, Yogyakarta, dan Makanan"