dia
Selalu membuatku merasa bisa tersenyum untuk segala kondisi
Menguatkanku
Menungguku ketika aku bilang tunggu
Tidak juga pergi ketika kusuruh pergi
Memastikan aku baik-baik saja setelah aku menumpahkan semuanya
dia..
kini membuatku khawatir
membuatku merasa bersalah karna kebodohanku
memikul beban yang berat
tidak bisa tersenyum secerah dulu
dia...
sahabatku
Posted in
pengen nulis
Lagi mania ma Death Note neeh...
i know, TELAT BANGET, KEMANE AJE LUH!!...
tapi gapapa lah... ngikutin perkembangan anime-manga kan ga ada kata telat... (hehehe... berusaha membela diri dari hujatan orang-orang). betewe, setelah kupikir-pikir, kok bisa-bisanya yah???
*kagum*
si orang-yang-bikin death note, kepikiran sampe segitunya, scene yang ada kripik kentang-nya, trus security system kamarnya Raito yang isi pensil ikut terlibat...
*hoooh..."o"*
kerenkerenkeren....
lanjut dari posting kemaren, setidaknya saya tahu kalo 'ga semuanya bisa diceritain sama siapapun' hehehe lagi-lagi nasehat dari Apuriria.
oya lupa...
"selamat idul fitri... maaf lahir batin"
Ngomong-ngomong soal maaf, ada sms yang isinya lumayan bikin saya mikir lama
"Sekalipun aku berniat menyayangimu Sahabatku
Bisa jadi aku bukanlah orang yang selalu menyenangkan
Ketika aku berbuat salah, menyebalkan dan menyakiti hatimu,
Maafkanlah aku Sahabatku"
Ternyata sebuah ikatan yang bernama 'sahabat' pun, belum tentu bisa membuat kita akan selalu terlihat baik dan sempurna di depan para sahabat kita. Justru kalo kita terlihat 'aslinya' di depan mereka, malah akan jadi bagus kan? kecuali kalo mereka ga mau nerima kita yang asli...
Posted in
huahaha,
pengen nulis
Jika cobaan datang,
sempatkah kita berkata "tunggu bentar, aku mo siap-siap dulu"
sempatkah kita berkata "cobaan, jangan sulit-sulit ya..."
siapkah kita, menghadapi semuanya sendirian?
ketika semuanya tidak lagi bisa kita jadikan pegangan?
ketika kita mulai memiliki krisis kepercayaan pada hal-hal yang dulu pernah kita percayai sepenuhnya?
sanggupkah kita, berjalan sendirian?
sanggupkah kita, mandiri untuk mengahadpi cobaan itu sendiri?
maukah mereka, mengerti apa yang kita rasakan?
bisakah???
Posted in
pengen nulis
Saya lagi keranjingan lagunya Kla Project, gara-garanya mama saya beberapa hari lalu pulang dengan membawa oleh-oleh berupa CD (Compact Disc bukan CelDam) Klakustik, buat yang gak tau, Klakustik itu kumpulan lagu-lagunya Kla, pas mereka lagi konser ke beberapa tempat, nah hasil konsernya itu direkam, jadinya kayak album the best gitu deh. Sekarang kebiasaan saya bertambah, biasanya saya hanya mendengar kumpulan lagu-lagu jebot dari winamp, sekarang koleksi lagu saya bertambah satu, yaa.. album Klakustik itu.
Cuma satu yang saya sesalkan, di album itu ga ada lagu Yogyakarta, padahal saya ngefans sekali sama lagu satu itu. Lagu yang benar-benar menggambarkan suasana kota Yogya dulu (ga tau kalo sekarang).
Speaking of Yogya, beberapa waktu lalu saya dan keluarga (ayah, mama, adik) sempet gitu rekreasi ke Yogya, dan you know what? Ternyata Yogya tidak lagi seramah dulu. Yang ada di pikiran saya waktu itu tentang Yogya adalah kota yang mahal, jahat, dan kotor (maap banget buat orang Yogya..tapi itulah yang saya rasakan..).
Kenapa mahal dan jahat? Karena waktu itu susah sekali mencari makanan yang harganya benar-benar sesuai, kebanyakan penjual menaikkan harga makanan secara gila-gilaan.
Adalah suatu hal yang lucu tapi miris. Ketika saya membeli sate ayam, di gerobak satenya tertulis SATE AYAM Rp.5000,- tapi apa yang terjadi, ketika saya bertanya “Pak pinten satene? (terjemahan: Pak, berapa (harga) satenya?”) dan pak penjual sate bilang “sepuluh ewu Dhik (sepuluh ribu Dik).” What the hell?! Akhirnya dengan gondok (sebel-red) saya mengatakan tidak jadi membeli satenya. Di sinilah keanehan terjadi, mendadak orang itu mencegah saya pergi dan berkata “Pun, Pitung ewu mawon (Sudah tujuh ribu saja)”, namun saya tetap tidak bergeming (kan udah kadung sebel) dan melanjutkan perjalanan, tapi penjual sate itu tetap keukeuh, sampai akhirnya dari kejauhan saya mendengar penjual sate itu berteriak “Nggih pun, gangsal, gangsal ewu pun! (ya sudah, lima ribu sudah!)”, sementara saya sudah terlanjur pesen gudheg komplit seharga lima ribu di warung lesehan yang penjualnya mbah-mbah.
Moral of this story is: seperti yang pernah dikatakan ayah saya, kalo kita di Yogya dan mau membeli makanan, belilah di warung atau lesehan dimana penjualnya ibu-ibu setengah baya atau mbah-mbah, why? Karena mereka JUJUR, tambahan lagi biasanya kalo penjualnya kayak gitu, masakannya enak-enak dan murah.
Posted in
holiday